Gelar Lailatul Ijtima di Perigi Lama, MWC NU Pondok Aren Adakan Pengajian Kitab Hujjah Ahlu Sunnah Waljama’ah
MAHARDHIKAnews.com PONDOK AREN, — Pengurus MWC NU Pondok Aren terpilih untuk periode tahun 2025 – 2030 KH. Fathur Rahman dan KH. Moch Toha, gelar Lailatul Ijtima perdana diawal kepengurusannya di Musolah Nurus Shodiqin Perigi Lama, Pondok Aren Tangsel.
Acara yang dilaksanakan oleh PRNU Perigi Lama yang diketuai KH. Ismi tersebut, berlangsung pada Jum’at malam (16/05) usai sholat isya hingga selesai, dengan dihadiri oleh Lurah Perigi Lama H. Edi Suherman.
Dalam acara tersebut, sesuai dengan visi dan misinya untuk membumikan ajaran Ahlu Sunnah Wal Jama’ah An Nahdliyah di Pondok Aren, maka diberikan pengajian kitab Hujjah Ahlu Sunnah Wal jama’ah karangan KH. maksum Krapyak Jogjakarta.
Pengajian dibawakan langsung oleh Rois Syuriah MWC NU Pondok Aren KH. Moch Toha, yang membawakan materi tentang dalil sampainya bacaan Al Qur’an dan shodaqoh melalui pandangan para imam dan ulama Islam.

“Ini perlu kita ketahui bersama, terlebih lagi para amil yang suka memimpin acara-acara ritual seperti tahlilan, manaqiban dan lainnya yang biasa kita lakukan,” ujar KH. Moch Toha di awal pemberian materinya.
Melalui kitab ini, KH. Moch Toha menegaskan bahwa tak ada hal yang mengharamkan atau yang sering disebut dengan Bid’ah oleh sekelompok orang yang menyerang amalan Ahlu Sunnah Wal Jama’ah belakangan ini.
Melalui kitab ini, dia menukil pandangan Imam Ibnu Taimiyah yang sering dijadikan rujukan oleh mereka yang menyerang amaliyah tahlilan dan do’a bagi mayit.
“Dalam kitab ini disebutkan bahwa Ibnu Taimiyah mengatakan sampai bacaan do’a dari orang lain pada si mayit atau ahli kubur, tapi anehnya yang mengaku sebagai pengikutnya mengatakan tidak,” ujarnya.
“Begitu pun dengan Ibnu Qayyim Al Jauziah, selaku murid dari Ibnu Taimiyah” tambahnya
KH. Moch Toha menjelaskan bahwa sengaja pandangan dari ulama yang bersebrangan dengan ulama Ahlu Sunnah Wal jama’ah, yang diambil oleh penulis kitab ini agar terkesan obyektif dalam penilaian.
“Jadi ini maksud dari sang penulis (KH. Ma’sum). Karena itu hoax besar jika ada yang mengatakan bahwa amalan kita Bid’ah” tandasnya.
Sebelum menjelaskan tentang isi buku tersebut, KH. Moch Toha juga menjelaskan cikal bakal berdirinya NU, hingga Resolusi Jihad yang diprakarsai oleh KH. Hadratus Syeikh Hasyim Ashari.
Dia juga menegaskan bahwa para jama’ah Ahlu Sunnah Wal Jama’ah perlu bersatu dan bergabung bersama dalam tubuh NU, (Nahdlatul Ulama).
“Tanpa adanya persatuan maka kita ini akan gampang dihancurkan oleh kekuatan lain. Karena itu mari kita semua bergabung di NU agar amaliyah dan ibadah kita tidak diganggu oleh aliran lain,” pungkasnya.
Acara yang diakhiri dengan do’a yang dipimpin oleh KH. Junaedi tersebut, di tutup dengan makan bersama dan ramah tamah. (Ivan)






