April 13, 2024

Semakin Masif Gema Tolak Tim Piala Dunia U 20 Israel, Indonesia Terancam Sanksi FIFA

Spread the love

MAHARDHIKAnews.com Jakarta – Gema penolakan kedatangan delegasi Timnas Israel U-20 ke Indonesia semakin masif disuarakan berbagai pihak. Beragam alasan penolakan muncul hingga membuat badan otoritas sepak bola dunia (FIFA) memberi tanggapan serius terhadap isu ini.

FIFA dalam keterangannya memutuskan untuk membatalkan proses Drawing Piala Dunia U-20 2023 yang diselenggarakan di Bali pada 31 Maret 2023.

Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI, Arya Sinulingga membenarkan informasi tersebut dalam pernyataan pers terkait pembatalan drawing di Kantor PSSI, GBK Arena, Jakarta pada Minggu (26/3) petang WIB.

PSSI masih menunggu arahan selanjutnya dari FIFA terkait kapan dan di mana lokasi drawing akan dilakukan. Meski demikian, Indonesia diprediksi akan mendapatkan dampak negatif apabila permasalahan ini tak mampu diselesaikan.

Beragam protes hingga penolakan digaungkan beberapa pihak yang mengecam keikutsertaan Israel karena berbagai alasan. Puncaknya saat Gubernur Bali I Wayan Koster menolak menyelenggarakan drawing Piala Dunia U-20 2023 di Bali.

Terlebih, I Wayan Koster sebelumnya sudah menandatangani Government Guarante untuk menjadi salah satu lokasi pelaksanaan Piala Dunia U-20 2023, termasuk di dalamnya drawing kompetisi.

PSSI tidak memberikan alasan pasti terkait dibatalkannya drawing di Bali yang semula digelar pada Jumat (31/3) di Gedung Ksirarnawa Taman Werdhi Budaya Art Center. Namun besar kemungkinan penolakan Gubernur Bali menjadi alasan terkuat.

Dibatalkannya drawing Piala Dunia U-20 2023 di Pulau Dewata menjadi peringatan awal FIFA untuk segera menyelesaikan persoalan tersebut. Banyak pihak yang menyebutkan jika Indonesia dalam ancaman sanksi FIFA dan dunia internasional.

Pengamat sepak bola, Akmal Marahali dengan lantang menyatakan bahwa Indonesia pasti akan terkena sanksi oleh FIFA jika penyelenggaraan ini dibatalkan.

“Saya mendengar rumor acara drawing Piala Dunia U-20 pada 31 Maret batal. Meski santer, tetapi saya masih terus mencari informasi. Jika info itu benar, maka Indonesia pasti terkena sanksi oleh FIFA,” kata Akmal Marhali saat diskusi yang digelar di Jakarta.

Komentar juga dilontarkan oleh komentator Kusnaeni terkait dibatalkannya proses drawing. Dirinya mengkhawatirkan jika turnamen ini dicabut maka dampak besar akan dirasakan Indonesia di masa depan.

“Jangan sampai hal itu terjadi. Mimpi buruk buat sepak bola kita. Jangan bermain-main dengan kesepakatan yang sudah dibuat dengan FIFA. Kita jadi host didapat dengan mengajukan diri, bukan FIFA yang minta. Taati kesepakatan yang ada. Segera cari air untuk memadamkan kebakaran yang timbul,” ucap Kusnaeni.

Berbagai spekulasi terkait sanksi juga mencuat seperti Indonesia akan kesulitan mengajukan diri menjadi tuan rumah kejuaraan hingga dibekukan dari berbagai kompetisi internasional.

Guru Besar Pariwisata Universitas Udayana, I Putu Anom menyayangkan kejadian ini. Terlebih penyelenggaraan ini akan menjadi daya tarik Piala Dunia U-20 2023 juga digadang-gadang akan meningkatkan sektor pariwisata dalam negeri.

Dibatalkannya event ini bukan tak mungkin akan membuat sektor pariwisata akan terganggu karena berkurangnya kunjungan wisatawan dalam dan luar negeri.

“Misalnya masing-masing dari 24 negara peserta ini ada 5 perwakilan yang hadir. Berapa orang itu yang datang? Akhirnya batal begitu saja. Bukan hanya hotel yang terdampak, tapi lini bisnis di pariwisata lainnya ikut terdampak,” bebernya.

“Dengan kondisi seperti sekarang, banyak hal yang harusnya kita cermati dalam kebijakan pariwisata Bali, karena perekonomian di Bali masih bertumpu pada sektor pariwisata sebagai sektor unggulan,” lanjutnya.

“Semua kebijakan harus bermanfaat untuk pemerintah pusat, daerah, kabupaten dan kota, serta industri yang terkait sebagai penerima manfaat,” tambahnya.

Anggota Exco PSSI Arya Sinulingga memastikan komitmen Ketua Umum PSSI sekaligus Ketua Panitia Penyelenggara (LOC) Piala Dunia U-20 2023, Erick Thohir untuk terus mencoba berbagai cara untuk berdiplomasi dengan FIFA. (Ivan)

Source: Merdeka.com