MAHARDHIKAnews.com TANGERANG SELATAN, – Perbandingan data APBD 2026 dan hasil Porsadin VII Banten 2026 membuka fakta menarik tentang kapasitas daerah versus pembinaan santri.
MAHARDHIKAnews.com TANGERANG SELATAN, – Perbandingan data APBD 2026 dan hasil Porsadin VII Banten 2026 membuka fakta menarik tentang kapasitas daerah versus pembinaan santri.
Berdasarkan pengesahan DPRD, APBD Kota Tangsel 2026 sebesar Rp4,818 Triliun (perubahan menjadi Rp5,25 T), hampir 2,5 kali lipat lebih besar dari APBD Kota Cilegon yang hanya Rp1,94 Triliun.
Namun hasil Porsadin VII Banten 2026 yang digelar di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak sebagai tuan rumah pada 1 November 2026 justru berbanding terbalik. Data peringkat akhir resmi DPC FKDT se-Banten per 01 November 2026 mencatat:
– Kota Cilegon (APBD Rp1,9 T): Juara 1 – 11 Emas, 168 Poin
– Kota Tangsel (APBD Rp4,8 T): Peringkat 4 – 3 Emas, 2 Perak, 3 Perunggu, 56 Poin
– Kab. Tangerang: Peringkat 3 – 1 Emas, 4 Perak, 5 Perunggu, 62 Poin
Artinya, dengan anggaran yang 2 kali lipat lebih besar, prestasi Tangsel justru hanya setengah, bahkan sepertiganya dari Cilegon, dan kalah poin dari Kabupaten Tangerang.
Bukan soal besarnya uang tapi soal seriusnya pembinaan
Memang benar, prestasi Porsadin tidak bisa diukur matematis langsung dari besarnya APBD. APBD Rp4,8 T itu sebagian besar untuk belanja pegawai, infrastruktur dan layanan dasar. Anggaran untuk Porsadin dan pembinaan MDT hanya sebagian kecil dari hibah keagamaan.
Namun logika publik sederhana, daerah dengan APBD besar seharusnya memiliki KAPASITAS lebih besar untuk membina.
Jika Cilegon dengan Rp1,9 T mampu menggelar Training Center (TC) terpusat, seleksi berjenjang hingga tingkat kecamatan, dan memberi insentif layak bagi guru MDT, seharusnya Tangsel dengan Rp4,8 T bisa melakukan hal yang sama, bahkan lebih baik.
Faktanya, dengan 3 emas dari 26 emas yang diperebutkan, kontribusi Tangsel hanya 11%. Untuk kota yang mengusung branding Kota Cerdas, Modern, Religius, capaian ini jelas jauh dari ekspektasi.
Pembinaan MDT Tangsel Perlu Dievaluasi
Kondisi ini memunculkan pertanyaan mendasar: sudah efektifkah pembinaan Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) di Tangsel?
Kemenag Kota Tangsel sebagai pembina teknis dan DPC FKDT Kota Tangsel sebagai induk organisasi MDT, perlu melakukan evaluasi menyeluruh terkait sistem seleksi duta, lamanya pemusatan latihan, dan pembinaan guru ngaji MDT.
Walikota Tangsel Benyamin Davnie diharapkan mengevaluasi pembinaan keagamaan, bukan hanya mengevaluasi pembangunan fisik. Karena juara Porsadin adalah cermin keseriusan daerah membina santri, bukan cermin besarnya APBD.
Catatan redaksi:
Berita ini disusun secara spontan berdasarkan rilis resmi hasil perolehan medali Porsadin VII Banten 2026 dari DPC FKDT se-Banten tertanggal 01 November 2026 di Lebak dan data APBD 2026 yang telah disahkan DPRD.
Saat berita ini ditayangkan, redaksi belum sempat meminta konfirmasi kepada Kantor Kemenag Kota Tangerang Selatan dan DPC FKDT Kota Tangerang Selatan. Redaksi membuka ruang hak jawab seluas-luasnya untuk keberimbangan pemberitaan. (Ivan)



