Wujudkan Kercayaan Diri dan Tumbuhkan Patriotisme, Pengantin Sunat Diarak Sisingaan
MAHARDHIKAnews.com KOTA TANGSEL, – Untuk bisa membuat pengantin sunat hilang rasa takut dan lebih percaya diri ketika pengantin sunat adalah naik Sisingaan, Demikian ungkapan Ferry Ferdinand saat arak arakan sisingaan khitanan Farid Kenzie Al Faried di halaman Kantor Kelurahan Pondok Kacang Barat, Jl. AMD Raya Pondok Aren, Minggu (17/05/26).
Tradisi Sisingaan Biasanya digelar sebelum anak yang bersangkutan disunat tetapi karena jadwal libur sekolah dan lain hal kami laksanakan justru seminggu setelah anak kami di khitan, demikian ungkap Sohibul Hajat Kang Ferry Ferdinan.
Tradisi Budaya Sisingaan itu memang lazim nya rata rata di gelar di daerah Pasundan dan sebagian wilayah Banten, dan kami selaku warga yang kebetulan asal Bogor dan sudah lama menetap di Kavling Kinayungan Tangerang Selatan Banten, kemudian juga ada keinginan permintaan dari anak saat di khitan supaya da digelar budaya naik sisingaan, “ungkapnya.
Kang Ferry kemudian menambahkan bahwa, “Anak kami rencana nya akan diarak dengan naik sisingaan singa bodor dari Sanggar Kebon Kopi Bogor, ada dua sisingaan yang masing masing nanti akan ditandu oleh 4 orang dengan berjalan dan berjoged sambil dilantunkan irama jaipongan dari pengiringnya dan akan start mulai dari halaman Kantor Kelurahan Pondok Kacang Barat sampai ke halaman rumah kami di Kavling Kinayungan G. 09/102 RT 05/ RW 09 Pdk Kacang Barat Tangsel, ” Singkatnya.

Kadang orang bertanya, dalam tradisi Sunda umumya di Jawa Barat dan Banten itu mengapa seorang anak yang disunat harus diarak menunggangi sisingaan, Apakah ini hanya sebatas hiburan semata atau ada pesan lain yang tidak kelihatan alias tersembunyi dalam sebuah tradisi budaya masyarakat Pasundan.
Menurut keterangan Mang Rusdy Wira Atmadja, Ketua rombongan sisingaan mengatakan bahwa, “Budaya khitanan anak dengan diarak naik sisingaan ataupun naik singa bodor seperti acara ini sebenarnya merupakan bagian dari cara leluhur kami menyampaikan pesan pesan kebaikan kepada anak laki laki yang di khitan.
Ini juga untuk membuat anak kedepannya lebih berani menjadi seorang laki laki menjelang fase dewasa, dan masyarakat bisa juga menyampaikan pesan syariat terhadap anak anaknya yang di khitan untuk lebih taat menjalankan perintah syariat agamanya, “Terangnya.
Sedangkan tradisi sisingaan itu sendiri tercipta oleh leluhur pasundan adalah sengaja dibuat sebagai wujud perlawanan masyarakat secara estetik terhadap kaum penjajah itu sendiri.
Karena saat itu kalau melawan secara fisik sesuatu yang sangat lah berat dengan sumber daya manusia Nusantara yang masih sangat terbatas, dan hebatnya masyarakat Sunda punya cara yang elegant dengan memasukan Patriotisme Kebangsaan itu lewat budaya yaitu Sisingaan.
“Jelas hal ini Sisingaan selain menjadi kan anak yang di khitan menjadi nyaman dan tidak takut di khitan juga untuk menumbuhkan semangat patriotisme kebangsaan terhadap masyarakat, “Pungkas Kang Rusdy Ketua Paguyuban Sisingaan Bodor Kebon Kopi Bogor. (Cak Nor)






