April 23, 2026

Sekretaris Disdikbud Karawang Irlan Suarlan: Sekolah Itu Lingkungan Belajar Tanpa Harus Ada Intimidasi

IMG-20260422-WA0043
Spread the love

MAHARDHIKAnews.com KAB. KARAWANG, — Gelombang kritik publik atas dugaan kekerasan terhadap siswa di SMPN 1 Kutawaluya belum mereda. Di tengah tekanan yang kian meluas, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Karawang, Irlan Suarlan, S.STP., akhirnya angkat bicara.

Nada pernyataannya terdengar hati-hati, namun menyimpan pesan tegas: sekolah harus kembali pada fungsi dasarnya, tempat yang aman bagi anak.

“Pemerintah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Karawang menyampaikan keprihatinan atas informasi yang berkembang terkait dugaan tindakan kekerasan terhadap peserta didik,” ujarnya, pada Rabu (22/4).

Pernyataan ini muncul setelah publik mempertanyakan komitmen dunia pendidikan terhadap perlindungan anak. Di satu sisi, jargon sekolah ramah anak terus digaungkan. Di sisi lain, dugaan tindakan fisik terhadap siswa justru kembali mencuat.

Irlan menegaskan, pada prinsipnya sekolah bukan ruang intimidasi, melainkan ruang tumbuh.

“Sekolah harus menjadi tempat yang aman, nyaman, dan ramah bagi anak. Setiap bentuk pembinaan harus mengedepankan pendekatan edukatif, humanis, dan sesuai dengan kaidah perlindungan anak,” tegasnya.

Namun publik kini menanti lebih dari sekedar pernyataan normatif. Apakah ini akan berujung pada tindakan konkret, atau kembali berhenti pada imbauan.

Disdikbud Karawang menyatakan saat ini tengah mendorong proses klarifikasi berjalan secara objektif. Semua pihak diminta menahan diri dan tidak berspekulasi, demi menjaga integritas pemeriksaan.

“Kami mendorong agar proses klarifikasi dan penanganan dilakukan secara objektif sesuai ketentuan yang berlaku. Semua pihak diharapkan menghormati proses agar fakta yang sebenarnya dapat diperoleh secara utuh,” jelasnya.

Meski demikian, sikap menunggu hasil ini juga memantik pertanyaan publik: apakah langkah preventif sudah cukup kuat selama ini, atau justru lemah hingga kasus serupa terus berulang.

Sebagai langkah lanjutan, Disdikbud berjanji akan memperkuat pembinaan di seluruh satuan pendidikan, terutama terkait penerapan disiplin positif, konsep yang selama ini sering digaungkan, namun dipertanyakan implementasinya di lapangan.

“Dinas Pendidikan akan terus melakukan pembinaan serta penguatan terkait disiplin positif dan pengelolaan pembelajaran yang berorientasi pada pembentukan karakter tanpa kekerasan,” ungkap Irlan.

Di akhir pernyataannya, ia berharap kasus ini menjadi titik balik, bukan sekedar catatan insiden yang dilupakan.

“Kami berharap peristiwa ini menjadi bahan evaluasi bersama agar dunia pendidikan semakin mampu menghadirkan lingkungan belajar yang sehat, aman, dan bermartabat,” pungkasnya.

Kini sorotan tertuju pada langkah nyata pemerintah daerah. Publik menunggu: apakah ini akan menjadi momentum perbaikan sistem, atau hanya siklus lama, kasus muncul, pernyataan keluar, lalu perlahan tenggelam tanpa perubahan berarti.

(D-Hunter)