Juni 5, 2026

Perangkat Desa dan Mantan Kades Berikan Klarifikasi: Polemik Dugaan Kericuhan Musdes Pantai Sederhana

IMG-20260409-WA0006
Spread the love

MAHARDHIKAnews.com KAB.BEKASI, – Polemik dugaan kekerasan dalam Musyawarah Desa (Musdes) di Desa Pantai Sederhana, Kecamatan Muaragembong, Kabupaten Bekasi, terus jadi sorotan publik. Insiden yang terjadi pada Senin, 6 April 2026 memunculkan perbedaan pendapat dari beberapa pihak yang terlibat.

Timin, salah satu perangkat desa yang hadir dalam rapat tersebut, memberikan klarifikasi terkait situasi di lokasi. Ia membantah tudingan bahwa perangkat desa maupun mantan kepala desa berinisial Z melakukan tindakan kekerasan di dalam forum rapat.

Menurut Timin, suasana rapat memang sempat memanas akibat adanya perbedaan pandangan mengenai kriteria pemilihan anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD). Namun, ia menegaskan tidak menyaksikan adanya aksi pemukulan di dalam ruangan rapat.

“Memang sempat terjadi adu argumen, suasana memanas. Tapi setahu saya tidak ada pemukulan di dalam forum rapat,” kata Timin pada mahardhikanews, Kamis (9/4).

Tak hanya itu, Misnan, yang juga sebagai perangkat desa, mengklarifikasi peran mantan kepala desa berinisial Z yang sebelumnya santer disebut terlibat. Menurut pengamatan saya, Z justru berupaya menjadi penengah untuk meredakan emosi massa yang memang sudah tidak kondusif.

“Yang saya lihat, bahwa Z mencoba melerai dan menenangkan suasana agar tidak terjadi keributan di ruangan rapat,” ucap Misnan.

Meski demikian, ia mengaku tidak mengetahui secara pasti apa yang terjadi di luar ruangan setelah di dalam forum memanas.

“Kalau di luar forum, saya tidak tahu sama sekali. Karena saya tidak melihat secara langsung apakah ada pemukulan atau tidak,” pungkasnya.

Kepala Desa Pantai Sederhana, Harun Zain, dalam keterangannya mengakui bahwa ada kericuhan di dalam pelaksanaan Musdes. Ia sangat menyayangkan insiden tersebut, karena itu sudah mencederai marwah demokrasi di tingkat desa.

“Kami sangat menyayangkan kericuhan ini sampai terjadi. Musdes yang seharusnya menjadi ruang musyawarah justru diwarnai insiden yang mencederai demokrasi di tingkat desa,” ujar Harun dengan nada kecewa.

Tak hanya itu, Harun juga memberikan catatan penting bahwa warga yang mengklaim sebagai korban kekerasan tersebut sebenarnya bukan merupakan peserta resmi yang diundang dalam forum Musdes.

“Perlu kami tegaskan, yang bersangkutan bukan bagian dari undangan resmi peserta Musdes Pantai Sederhana,” tegasnya.

Sebelumnya, sejumlah pihak mengaku menjadi korban dugaan kekerasan dalam forum tersebut dan telah melaporkan kejadian itu ke pihak kepolisian, dengan menyertakan bukti visum.

Pihak kepolisian pun membenarkan adanya laporan tersebut dan menyatakan kasus masih dalam proses penanganan, Aparat Penegak Hukum (APH) Polsek Muaragembong.

Perbedaan keterangan antara pihak pelapor, perangkat desa, dan pemerintah desa kini menjadi sorotan publik. APH diharapkan dapat mengusut tuntas kasus ini secara objektif guna mengungkap fakta sebenarnya dibalik insiden tersebut.

Hingga berita ini diterbitkan, proses penyelidikan masih terus berjalan dan belum ada kesimpulan resmi dari pihak berwajib.

(D-Hunter/Ismail BK)