Juni 8, 2026

Ramai Di Medsos Terkait Pagar Bambu Misterius Sepanjang 30 KM, Ini Pernyataan Jaringan Rakyat Pantura

1736587944426
Spread the love

MAHARDHIKAnews KABUPATEN TANGERANG, – Jaringan Rakyat Pantura yang terdiri dari Mahasiswa, Nelayan dan Pemuda, mengundang beberapa media masa, seperti media Cetak atau Online, serta media televisi di Rumah Makan Rizki, yang terletak di Desa Karang Serang, Kecamatan Sukadiri, Jum’at (10/01)

Jaringan Rakyat Pantura melalui juru bicaranya Sandi mengatakan, beredarnya pemberitaan Pagar Laut di utara, tepatnya di Tangerang, itu adalah tanggul untuk menahan ombak, juga abrasi yang berada di laut.

Sebagai mahasiswa dia yang merupakan bagian organisasi Jaringan Rakyat Pantura menjelaskan, bahwa kita liat sama-sama, saat ini belum ada kesejahteraan untuk nelayan dari pemerintah yang signifikan seperti di Eropa.

“Rasanya itu jauh sekali, jadi belum ada tindakan serius dari pemerintah pusat untuk kesejahteraan nelayan, begitupun pemerintah setempat,” katanya.

“Mengenai pemagaran sebetulnya itu bukan nelayan tapi memang swadaya, kita sebut masyarakat karena bukan hanya kepentingan nelayan saja tetapi ini untuk menahan abrasi, ombak dan segala macam,” imbuhnya.

“Makanya dibuatlah tanggul tersebut,. Nah seiring berjalannya waktu pagar tersebut ditumbuhi oleh kerang hijau, lalu diberi waring untuk dibudidayakan seperti udang, ikan,” urai Sandi.

Lanjutnya, kita lihat juga tidak ada yang mentok-mentok ke perahu nelayan. Ini merupakan swadaya masyarakat. Mereka yang kurangnya edukasi , apalagi Data BPS, USDM di Kabupaten Tangerang juga rendah ini yang mengakibatkan hal itu terjadi.

“Kalo tanggul abrasi dampaknya sudah luar biasa, agar tidak habis garapan, akhirnya kita membuat penjaga ombak berbentuk tanggul,” tambahnya.

Di tempat yang sama, Sarbana Perwakilan nelayan dari Kampung Lontar mengutarakan, kemarin saya liat patok-patok dipagar itu, dibawahnya banyak kerang hijau.

“Sebelumya empang temen banyak abrasi, terus pemerintah desa Lontar berinisiatif, menanam pohon-pohon bakau dan membuat pagar bambu guna mengurang abrasi,” ucapnya.

Sedangkan Rosid Warislan, menyampaikan, adanya paguyuban dan kita punya uang kas pembuatan tanggul, kalo dipertanyakan izin kita tidak berzin.

“Nelayan ini saling berkoordinasi, disebutkan di media bahwasanya terkait pemagaran sekitar 30 Km, untuk pastinya kami tidak tau, yang jelas terkait Tanggul yang kami buat ini, itu saling berkoordinasi antara desa satu dengan desa lain,” paparnya.

“Antara nelayan satu dengan nelayan lain, maka pembuatan tanggul kita kerjakan secara bersama antar nelayan secara swadaya,” tutup Rosid. (Yan)