Miris! Curhatan Sopir Angkot ke Gubernur Jabar, Soal Sepinya Penumpang Jurusan Tanjungpura-Rengasdengklok
MAHARDHIKAnews.com
KAB. KARAWANG, — Ada momen menarik saat Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, melakukan perjalanan dari rumahnya di Subang menuju kawasan Candi Batujaya di Kabupaten Karawang.
Di tengah perjalanan, KDM (sapaan Dedi Mulyadi) tiba-tiba menghentikan kendaraannya dan memilih naik sebuah angkutan kota (angkot) yang melintas di jalan.
Aksi spontan tersebut bukan tanpa alasan.
Dedi Mulyadi ingin mendengar langsung kondisi masyarakat, termasuk para sopir angkot yang saat ini menghadapi tantangan berat akibat perubahan pola transportasi masyarakat.
Sebelum naik ke angkot, KDM sempat bertemu seorang pedagang yang baru turun dari kendaraan tersebut.
Dedi Mulyadi bahkan meminta pedagang itu tidak perlu membayar ongkos dan memberikan sejumlah uang pecahan Rp100 ribuan sebagai bentuk bantuan.
Percakapan Jujur dengan Sopir Angkot, Terungkap Penghasilan yang Kian Menurun
Di dalam angkot jurusan Tanjungpura-Rengasdengklok, Dedi Mulyadi berbincang langsung dengan sopir mengenai kondisi usaha transportasi umum saat ini.
Kepada Dedi Mulyadi, sopir angkot mengungkapkan, kendaraan yang digunakannya merupakan angkot keluaran tahun 1998 yang masih beroperasi hingga sekarang.
Dalam percakapan tersebut, sopir mengaku, harus menyetor Rp70 ribu setiap hari kepada pemilik kendaraan. Namun hingga siang hari, penghasilannya baru mencapai sekitar Rp40 ribu.
Mendengar hal itu, Dedi Mulyadi tampak prihatin.
“Kalau kerja sebagai buruh tani atau mencangkul, biasanya jam segini sudah bisa mendapatkan Rp70 ribu sampai Rp100 ribu. Sekarang sopir angkot malah kalah penghasilannya dibanding tukang cangkul,” ujar Dedi Mulyadi, Minggu (14/6/2026).
Terdesak Transportasi Online, Sopir Angkot Mengaku Sulit Bertahan
Sopir tersebut menjelaskan, semakin banyak masyarakat yang beralih menggunakan sepeda motor pribadi maupun layanan transportasi online membuat jumlah penumpang angkot terus berkurang.
Menurutnya, persaingan dengan layanan berbasis aplikasi menjadi salah satu faktor utama menurunnya pendapatan sopir angkot. Meski demikian, ia tetap bertahan menjalani profesinya demi memenuhi kebutuhan keluarga.
Setiap hari, ia mulai bekerja sejak pukul 08.00 pagi dan berkeliling mencari penumpang meski hasil yang diperoleh sering kali belum cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Kisah Keluarga Sopir Angkot yang Menyentuh Perhatian Dedi Mulyadi
Percakapan kemudian berlanjut ke kondisi keluarga sang sopir.
Pria tersebut mengaku memiliki tiga orang anak. Dua di antaranya masih bersekolah, sementara satu anak lainnya telah beranjak dewasa.
Namun kondisi ekonomi keluarga masih menjadi tantangan yang harus dihadapi setiap hari.
Ketika ditanya mengenai kebutuhan pokok di rumah, sopir itu mengaku sering kali harus mencari cara terlebih dahulu untuk memenuhi kebutuhan beras dan kebutuhan harian lainnya.
Jawaban tersebut membuat suasana percakapan menjadi semakin hangat dan penuh empati.
KDM pun mendengarkan, setiap cerita yang disampaikan sang sopir sambil terus menggali berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat kecil di lapangan.
Dedi Mulyadi pilih mendengar langsung suara masyarakat momen naik angkot tersebut, kembali menunjukkan gaya kepemimpinan Dedi Mulyadi yang dikenal kerap turun langsung menemui masyarakat tanpa protokoler yang berlebihan.
Melalui dialog sederhana di dalam angkot, Gubernur Jawa Barat itu memperoleh gambaran nyata mengenai kondisi ekonomi para sopir angkutan umum yang kini menghadapi tekanan akibat perubahan zaman dan berkembangnya transportasi berbasis digital.
Pertemuan singkat tersebut menjadi potret kehidupan masyarakat yang masih berjuang di tengah persaingan ekonomi yang semakin ketat, sekaligus menjadi pengingat bahwa masih banyak kelompok pekerja sektor informal yang membutuhkan perhatian dan dukungan agar tetap dapat bertahan.
(D-Hunter)






