April 22, 2026

Berkat Kerja Keras dan Takdzim Pada Guru, KH. Ahmad Ghazali Miliki Ponpes Assa’dah Setu Tangsel

Screenshot_20250128-031244
Spread the love

Sejarah dan Perjuangan Hidup KH. Ahmad Ghazali 

MAHARDHIKAnews.com KOTA TANGSEL , — KH. Akhmad Ghozali atau biasa dipanggil Abah H. Ghozali adalah salah satu ulama terkemuka di Kota Tangsel. Dia adalah pemilik dan pengasuh Pondok Pesantren Assa’adah yang berlokasi di Komplek Puri Serpong Blok C 1 Setu, Kecamatan Setu Tangsel.

Pria yang selalu tampil sederhana ini terlahir pada tanggal 11 Agustus 1963 dari keluarga sederhana yang berasal dari desa Siasem Kecamatan Wanasari, Kecamatan Brebes.

Anak pasangan Wasbari dan Damah yang berprofesi sebagai petani ini, memiliki kakek seorang pejuang yang bernama Sayid. Dia wafat pada saat berjuang dalam pertempuran melawan penjajah belanda.

Sedangkan Buyutnya bernama Dalsiah, yang merupakan salah satu tokoh agama terkemuka di zamannya dan juga terkenal dengan kesaktiannya.

Setamat Sekolah Dasar, Ahmad Ghazali melanjutkan pendidikannya di beberapa pesantren salafiyah. Diantaranya di Rangkasbitung Banten dibawah asuhan Abah KH. Johan Jazuli dan pondok pesantren Salaf Al Kauman (APIK) Kaliwungu Kendal Jateng, dibawah asuhan Mbah Khumaedullah Irfan.

Bakat dan kecerdasannya juga kemampuannya dalam memimpin, sudah mulai terlihat sejak dia menimba ilmu di Pesantren Apik. Dia sering mendapatkan penghargaan dan kepercayaan di ponpesnya ini.

Mulai dari Asatidz, kelas satu SP menjadi Rais Sharaf, kelas dua SP menjadi Rais Amriti. Bahkan di tahun ketiga Kelas satu MTs, menjadi Rais Alfiyah. Di wilayah pengasramaan terpilih sebagai Ketua Keamanan komplek GB dan setahun kemudian terpilih menjadi ketua jam’iyahnya.

Selesai Mesantren beliau berkhidmah kepada beberapa Kyai Kharismatik, diantara yang paling utama kepada Almarhum Almaghfurlah Mbah KH. Dimyati Rois Kaliwungu Kendal.i

Dia bagian diantara yang ikut mendampingi Mbah Dim dalam membuka Lahan pertanian di Bum sebuah kawasan pertanian di daerah Kaliwungu. Dan pernah ikut mengasuh putra Mbah Dim.

Selanjutnya dia pindah ke Tangerang dan bertemu dengan sesepuh ulama Tangerang yaitu (Alm) Almaghfurlah KH. Ahmad Basuni bin KH. Abdurrahman, tepatnya di kampung Jeletreng Desa Serpong, Tangerang Selatan.

Selama dalam asuhannya, beliau diakui serta diangkat sebagai anaknya. Melalui arahan dan nasehat dari KH Basuni juga, dia diminta untuk Tabarruk kepada Almarhum Almaghfurlah Ajengan Mama KH. Basri Kedawung Bogor.

Selain itu, dia juga diarahkan untuk takhassus Qiraah Sab’ah (membaca qur an tujuh Imam) kepada Almarhum Almaghfurlah KH. Khozin Dasuki Cibadak Suradita. Di tempat inilah Abah H. Ghozali mendapatkan pendamping hidupnya bernama Hj. Jamilah.

Mendirikan Pondok Pesantren

Abah H. Gozali menikah pada tahun 1987. Di tahun pertama pernikahannya dia hijrah ke Desa Setu Kecamatan Setu Tangerang Selatan yang saat itu masih berstatus Kabupaten Tangerang, atas permintaan KH. Basyuni untuk membuka majelis ta’lim Al- Qur an, (pengajian recet/anak-anak).

Majelis Ta’lim nya terus berkembang hingga membuka pengajian remaja, bapak-bapak, kaum ibu-ibu di mushalla dan masjid Desa Setu, hingga sampai ke desa-desa tetangga.

Selain itu Abah Ghazali juga mengajar di MI Tahdibul Athfal, MTs Pembangunan Puspiptek, sampai menjadi kepala Madrasah, di Madrasah Diniyah Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Serpong.

Pada awal hijrah beliau beserta istri dari kampung Cibadak ke Desa Setu tidak mempunyai dan membawa bekal materi sedikitpun, melainkan membawa bekal secuil ilmu agama mengingat orang tua dan mertua beliau keduanya orang susah (miskin).

Untuk memenuhi tuntutan hidup dalam keluarga dan bekal berjuang, beliau pernah berjualan minyak tanah dengan dorong gerobak keliling ke kampung-kampung.

Pernah juga berdagang rokok di trotoar jalan raya Serpong, terakhir membuka lahan hutan di Setu sebagai ikhtiar untuk memperoleh rizki dengan bercocok tanam beragam pala wija. Mulai dari menanam singkong ketimun, jagung, kacang tanah, cabe, kacang panjang hingga puluhan tahun lamanya.

Dari hasil tani inilah beliau jadikan bekal menafkahi keluarga, dan bekal untuk berdakwah sambil merefleksikan ilmu rasa atau ilmu hati yang beliau peroleh dari pondok pesantren.

Dia mulai dari belajar Ikhlas, Sabar, Qana’ah, Tawakkal serta menghindar dari sifat tamak, yang puncaknya menanam Hikmah ‘aliyah.

Dalam segala keterbatasan, kekurangan dan susahnya beliau, ada isyarat langit dengan bukti kasyaf berdatangannya anak yatim dan dhu’afa yang minta belajar ngaji.

Satu demi satu dari berbagai macam daerah mereka datang, hingga terkumpulah 35 anak yatim dan dhu’afa dengan kondisi non badan/lembaga (non legalitas).

Mereka tinggal, makan, tidur, dan mandi dalam satu rumah beliau. Dengan kondisi seperti itu, Kyai Ghazali bekerja gigih mencangkul ladang tanpa pernah mengenal lelah. Dia bercocok tanam bersama anak asuh yatim dan dhu’afa tersebut.

Seiring berjalannya waktu belau sowan kepada Guru Besarnya Mbah KH. Dimyati Rais, sebagai kebiasaan dan kegemaran neliau untuk meminta do’a restu dan nasehat. Disana Mbah Dimyati Rais Kaliwungu tiba-tiba berkata:

“Jal (Ghozali) coba kamu di Tangsel nyari sawah sepetak atau sekamas sebagai lahan untuk berjuang, supaya kamu selalu mendapat bawon (penghasilan/upah) sendiri tidak mendapat bawon dari orang lain,” pesan mbah Dim.

Pada saat pesan ini dia terima, dirinya  sedang membantu merintis lahirnya pondok pesantren Asshiddiqiyah Serpong, milik (Alm) KH. Nur Iskandar SQ. Berbagai fikiran pun berkecamuk dalam otak dan dadanya.

Namun dengan berpegang pada nasehat dan doa dari guru besarnya itu, meski  antara percaya dan tidak percaya bahkan hampir mustahil, kalau dirinya disuruh nyari sawah untuk bercocok tanam santri alias bikin pondok pesantren.

Namun dengan penuh keyakinan, serta berharap rahmat dan ridha Allah SWT, serta do’a dan barokah dari Mbah Dimyati Rais dan para gurunya, juga do’a dari kedua orang tua dia akhirnya, melakukan peletakan batu pertama pada tahun 2003.

Dengan berbagai macam kesusahan dan kesulitan, ujian, tantangan serta rintangan sampailah pada hari ini bulan Januari tahun 2025 pondok pesantre Assa’adah telah berjalan dan berkembang.

Bangunannya pun berdiri kokoh dengan bangunan sebanyak 3 lokal yang terdiri dari dua dan tiga lantai berikut masjid dan asrama santri, dengan berbagai fasilitas lengkap seperti komputer dan sarana olah raga. (Ivan)