Dr. KH. M. Nurul Irfan M. Ag Berikan Pernyataan Berkelas Untuk Ponpes Assa’adah Setu Tangsel
MAHARDHIKAnews.com KOTA TANGSEL, — Salah satu Dosen punggawa dalam bidang program studi Hukum Pidana Islam ( Fiqih Jinayah ) UIN Syarif Hidayatullah Dr. KH. Nurul Irfan M. Ag berikan pernyataan berkelas tinggi untuk Pontren Assa’adah Setu Tangerang Selatan, Minggu (12/01).
Pernyataan itu diberikannya usai mewawancarai pimpinan Pontren Assa’adah KH. Ahmad Ghazali, bersama dengan Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah jurusan Fiqih Muamalah Prof. Dr Hasanudin Maulana dalam acara Podcast di Pontren Assa’adah.
Menurutnya, kemampuan Pontren Assa’adah untuk melahirkan para santri yang bisa menguasai Kitab Kuning sesuatu yang sangat luar biasa. Karena kemampuan ini belum banyak dimiliki oleh Pontren lain.
Sebelumnya, KH. Ahmad Ghazali menyampaikan sebuah rumusan pola pendidikan yang disebutnya sebagai kebijakan lokal, yang dirumuskan nya sendiri demi kemajuan anak santri didiknya.
Dia menyebutnya dengan istilah 7 K. Adapun 7 K tersebut adalah, Kemampuan santri untuk menguasai kitab kuning. Mulai dari Kemampuan Membaca, Mengurai/mengapsah, Mengerti dan Memahami kitab tersebut, hingga bisa Mengajarkan dan Mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

“Metode 7 K yang ada di Pontren Assa’adah ini memang sesuatu yang luar biasa. Karena tidak semua santri lulusan pesantren menguasai ke 7 kemampuan tersebut,” ujarnya.
Dan yang lebih hebat lagi adalah metode pembelajaran yang diberikan oleh KH. Ahmad Ghazali, hingga dirinya bisa menjamin bawah para santri lulusannya bisa menguasai kemampuan tersebut.
“Dengan teori yang dipraktekkan selama ini di Assa’dah, dimana Kemampuan menguasai Kitab Kuning ini jadi sebuah keunggulan dibandingkan ponpes lain, tentu sesuatu yang menjanjikan bagi para orang tua santri,” imbuhnya.
Dia mengakui bahwa untuk menjadikan seseorang yang di sebut ulama, maka seseorang harus menguasai Kitab Kuning. Karena dengan keahlian tersebut seseorang bisa memahami ilmu agama dengan benar.
“Penguasaan kita kuning menjadi syarat bagi seseorang untuk menguasai ilmu agama. Dan sepertinya lulusan Pontren Assa’adah memang layak disebut sebagai ‘Pelatnas calon ustadz dan ustadzah,” katanya.
Dan yang lebih membuatnya salut adalah, di Pontren Assa’adah ini meski pelajaran Kitab Kuning, Al Qur’an dan Pidato jadi unggulan, namun pelajaran umumnya juga tak ketinggalan.
“Kita lihat ada pelajaran Komputer, bahasa Inggris, Ekonomi hingga Seni dan Olah Raga diberikan disini. Bahkan banyak diantara mereka berprestasi dalam berbagai even lomba,” tukasnya.
Hal tersebut juga diamini oleh Prof. Hasanudin Maulana yang kebetulan pernah satu pesantren dengan KH. Ahmad Ghazali di ponpes APIK Kedungwungu Kendal Jateng dibawah asuhan KH. Dimyati Rois atau Mbah Dim.
“Memang tidak semua santri yang lulus dari pesantren itu menguasai hal tersebut. Ini sesuai dengan pengalaman yang dilihatnya dari beberapa lulusan pondok pesantren, ” ucapnya.
Dia menambahkan bahwa, pola dan cara mendidik KH. Ahmad Ghazali dalam kitab kuning sudah juga diketahuinya, dan memang efektif membuat santri menguasai Kitab Kuning.
“Semua itu ada rumusannya dan tidak semua mengetahuinya. Jadi jika beliau (KH. Ahmad Ghazali) menjamin bahwa saat santrinya lulus dia menguasai kitab kuning itu sebuah keniscayaan,” terangnya.
Pontren Assa’adah yang berlokasi di Puri Serpong Blok C 1 Kecamatan Setu Tangsel memang pontren yang berbasis Salaf, namun begitu para santri tetap mengikuti pelajaran umum sesuai dengan kurikulum Kementrian Dinas Pendidikan. (Ivan)






