JAKARTA, MahardhikaNews.com — Indonesia merupakan salah satu negara dengan aktivitas vulkanik tertinggi di dunia. Berada di kawasan Pacific Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik, Indonesia memiliki sedikitnya 127 gunung api aktif yang tersebar dari Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku hingga Sulawesi.
Keberadaan gunung api tersebut bukan sekadar membentuk bentang alam Indonesia. Aktivitas vulkaniknya juga menjadi objek pemantauan dan penelitian karena setiap gunung memiliki karakter, sejarah erupsi, serta pola aktivitas yang berbeda.
Tidak semua gunung api aktif memiliki tingkat aktivitas yang sama. Ada gunung yang memiliki siklus erupsi dalam rentang puluhan hingga ratusan tahun, sementara sebagian lainnya dapat menunjukkan aktivitas letusan dalam interval yang lebih pendek.
Kondisi inilah yang membuat pemantauan aktivitas gunung api menjadi bagian penting dari upaya mitigasi bencana di Indonesia.
127 Gunung Api Dibagi Menjadi Tiga Tipe
Berdasarkan klasifikasi kegunungapian yang dicantumkan dalam materi sumber, 127 gunung api aktif Indonesia dikelompokkan menjadi tiga tipe, yakni Tipe A, Tipe B dan Tipe C.
Pembagian tersebut antara lain mempertimbangkan catatan sejarah erupsi dan indikasi aktivitas vulkanik yang masih ditemukan.
1. Gunung Api Tipe A: 76 Gunung
Tipe A merupakan kelompok dengan jumlah terbanyak, yakni 76 gunung api.
Gunung api tipe A adalah gunung yang memiliki catatan sejarah letusan sejak 1600. Riwayat erupsi yang tercatat tersebut menjadi salah satu dasar utama pengelompokan gunung ke dalam tipe A.
2. Gunung Api Tipe B: 30 Gunung
Sebanyak 30 gunung api masuk dalam kategori tipe B.
Berbeda dengan tipe A, gunung api tipe B memiliki catatan sejarah letusan sebelum tahun 1600.
Dengan demikian, catatan sejarah letusan menjadi salah satu pembeda penting antara kelompok tipe A dan tipe B.
3. Gunung Api Tipe C: 21 Gunung
Sementara itu, terdapat 21 gunung api tipe C.
Kelompok ini tidak memiliki catatan sejarah letusan. Namun, bukan berarti gunung-gunung tersebut sama sekali tidak menunjukkan aktivitas vulkanik.
Gunung tipe C masih memperlihatkan indikasi aktivitas, antara lain berupa keberadaan solfatara atau fumarole.
Artinya, ketiadaan catatan erupsi dalam sejarah bukan otomatis berarti gunung tersebut tidak memiliki aktivitas vulkanik.
Apakah 127 Gunung Api Semuanya Sedang Aktif?
Istilah gunung api aktif tidak berarti seluruh gunung tersebut sedang mengalami erupsi atau memiliki tingkat aktivitas yang sama.
Setiap gunung memiliki karakteristik dan sejarah aktivitas masing-masing. Sebagian gunung mempunyai siklus erupsi yang panjang, sedangkan gunung lainnya dapat mengalami aktivitas dengan interval yang lebih pendek.
Karena itu, status dan perkembangan aktivitas gunung api perlu dipantau secara berkelanjutan.
Dalam materi yang merujuk pada laman Magma Indonesia, disebutkan terdapat 69 gunung api tipe A yang mendapatkan pemantauan khusus karena memiliki skala letusan yang lebih sering dibandingkan kelompok lainnya.
Pemantauan tersebut dilakukan sebagai bagian dari fungsi pelayanan publik untuk mengamati perkembangan aktivitas gunung api dan memberikan informasi terkait potensi bahaya kepada masyarakat.
Sebaran 69 Gunung Api Tipe A yang Dipantau
Gunung api tipe A yang menjadi objek pemantauan tersebar di sejumlah wilayah Indonesia.
Sumatera — 12 Gunung
Sebanyak 12 gunung api tipe A berada di Sumatera, yaitu:
- Gunung Seulawah Agam — Aceh Besar, Aceh.
- Gunung Peut Sague — Pidie, Aceh.
- Gunung Burni Telong — Bener Meriah, Aceh.
- Gunung Sinabung — Karo, Sumatera Utara.
- Gunung Sorik Marapi — Mandailing Natal, Sumatera Utara.
- Gunung Marapi — Agam dan Tanah Datar, Sumatera Barat.
- Gunung Tandikat — Padang Pariaman dan Agam, Sumatera Barat.
- Gunung Talang — Solok, Sumatera Barat.
- Gunung Kerinci — Kerinci, Jambi dan Solok Selatan, Sumatera Barat.
- Gunung Dempo — Pagar Alam, Sumatera Selatan.
- Gunung Kaba — Rejang Lebong dan Kepahiang, Bengkulu.
- Gunung Anak Krakatau — Lampung Selatan, Lampung.
Jawa — 19 Gunung
Pulau Jawa memiliki 19 gunung api tipe A dalam daftar sumber, yakni:
- Gunung Sumbing.
- Gunung Salak.
- Gunung Gede.
- Gunung Tangkuban Parahu.
- Gunung Guntur.
- Gunung Papandayan.
- Gunung Galunggung.
- Gunung Ciremai.
- Gunung Slamet.
- Gunung Dieng.
- Gunung Sundoro.
- Gunung Merapi.
- Gunung Kelud.
- Gunung Arjuno Welirang.
- Gunung Bromo.
- Gunung Semeru.
- Gunung Lamongan.
- Gunung Raung.
- Gunung Ijen.
Gunung-gunung tersebut tersebar di Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta hingga Jawa Timur.
Bali dan Nusa Tenggara
Wilayah Bali dan Nusa Tenggara dalam daftar sumber mencakup sejumlah gunung api tipe A, antara lain Gunung Batur, Gunung Agung, Gunung Rinjani/Barujari, Gunung Tambora, Gunung Sangeangapi, Gunung Inielika, Gunung Inierie, Gunung Ebulobo, Gunung Kelimutu, Gunung Iya, Gunung Rokatenda, Gunung Egon, Gunung Lewotobi Laki-laki, Gunung Lewotobi Perempuan, Gunung Lereboleng, Gunung Ili Boleng, Gunung Ili Lewotolok, Gunung Ili Werung, Gunung Batutara, Gunung Sirung, Gunung Hobal dan Gunung Anak Ranakah.
Maluku — 12 Gunung
Di kawasan Maluku dan Maluku Utara terdapat 12 gunung api tipe A dalam daftar tersebut, yakni:
- Gunung Wetar
- Gunung Nieuwerkerk
- Gunung Wurlali
- Gunung Teon
- Gunung Nila
- Gunung Serua
- Gunung Banda Api
- Gunung Dukono
- Gunung Ibu
- Gunung Gamkonora
- Gunung Gamalama
- Gunung Kie Besi
Gunung-gunung tersebut tersebar di Maluku, Maluku Barat Daya, Maluku Tengah, Halmahera Utara, Halmahera Barat, Kota Ternate hingga Halmahera Selatan.
Sulawesi
Sementara itu, daftar sumber mencatat sejumlah gunung api tipe A di Sulawesi, antara lain Gunung Colo, Ambang, Soputan, Lokon, Mahawu, Tangkoko, Ruang, Karangetang, Awu, Banua Wuhu dan Sangir. Sebagian besar berada di Sulawesi Utara, termasuk wilayah kepulauan.
Pemantauan Gunung Api Berlangsung 24 Jam
Tingginya jumlah gunung api dan perbedaan karakter aktivitas membuat pemantauan menjadi elemen penting dalam mitigasi bencana vulkanik.
Masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan gunung api menghadapi potensi ancaman yang berbeda-beda, bergantung pada karakter gunung, aktivitas terkini dan kondisi lingkungan di sekitarnya.
Dalam materi sumber disebutkan bahwa 69 gunung api dipantau oleh PVMBG selama 24 jam sebagai bagian dari fungsi pelayanan publik.
Pemantauan tersebut menjadi instrumen penting untuk mengetahui perkembangan aktivitas vulkanik sekaligus mendukung penyampaian informasi kepada masyarakat ketika terjadi perubahan aktivitas.
Kesimpulan
Dengan 127 gunung api aktif, Indonesia menghadapi dinamika vulkanik yang sangat kompleks. Namun, jumlah tersebut tidak dapat dipahami hanya sebagai angka, karena masing-masing gunung memiliki sejarah dan karakter aktivitas yang berbeda.
Klasifikasi tipe A, B dan C membantu menggambarkan perbedaan riwayat erupsi serta indikasi aktivitas vulkanik. Di sisi lain, pemantauan berkelanjutan terhadap gunung-gunung yang menjadi objek pengawasan menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi risiko bagi masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana.
Jurnalis: Tantan Su

