Oleh : DR. H.M. Edi Suharsongko S.Ag., M.Pd
MAHARDHIKAnews.com TANGERANG SELATAN, — Kematian seorang ulama adalah musibah besar bagi umat. Rasulullah ﷺ menyebut ulama sebagai pewaris para Nabi. Tulisan ini mengkaji 5 karakter langka dari Al-Marhum K.H. Syukron Ma’mun: kemandirian dari kekuasaan, inklusivitas dakwah, keberanian menyampaikan kebenaran, anti-ashabiyah, dan nasionalisme yang berbingkai iman.
Dengan pendekatan maqashid syariah dan dalil naqli serta aqli, makalah ini menegaskan bahwa model “Straight Path Ulama” adalah kebutuhan umat di tengah polarisasi politik dan sosial.
Kata Kunci: Ulama, Istiqamah, Dakwah, Kemandirian, Nasionalisme, Ashabiyah
A. PENDAHULUAN
Ulama adalah manaratul huda — mercusuar petunjuk umat. Ketika satu ulama wafat, maka satu pintu ilmu tertutup.
Rasulullah ﷺ bersabda:
قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: إِنَّ اللهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ النَّاسِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ
“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari manusia, tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama.”
>
Al-Marhum K.H. Syukron Ma’mun wafat di usia 84 tahun. Beliau adalah contoh ulama shirathal mustaqim — ulama yang berjalan di jalan lurus. Kelangkaannya terletak pada 5 karakter berikut.

B. PEMBAHASAN: 5 KARAKTERISTIK “STRAIGHT PATH ULAMA”
1. Tidak Bisa Dikooptasi Kekuasaan: Kemandirian Ulama
Dalil Naqli:
Allah berfirman:
وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا وَإِيَّايَ فَاتَّقُونِ
> “Dan janganlah kamu jual ayat-ayat-Ku dengan harga murah, dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus bertakwa.”
>
Dalil Aqli:
Secara logika, jika ulama bisa dibeli oleh penguasa maka fungsi amar ma’ruf nahi munkar akan lumpuh. Ulama akan menjadi “stempel” kekuasaan, bukan “kontrol” kekuasaan.
Imam Al-Ghazali menyebut ulama yang dekat penguasa demi dunia sebagai “Ulama Su’”.
Referensi: Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Juz 1. Bahwa kemuliaan ulama adalah ketika ia tidak butuh kepada penguasa.
2. Tidak Memilih Tempat Dakwah: Inklusivitas dan Rahmatan Lil ‘Alamin
Dalil Naqli:
Allah berfirman tentang tugas Nabi:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
> “Dan Kami tidak mengutus engkau wahai Muhammad melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.”
>
Dalil Aqli:
Dakwah yang eksklusif hanya melayani satu kelompok akan menciptakan segregasi umat. Padahal Islam datang untuk menyatukan. Seorang ulama sejati melayani pedagang di pasar, pejabat di kantor, dan buruh di pabrik dengan pesan tauhid yang sama.
Referensi: Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an (Mizan, 2007). Dakwah inklusif adalah cerminan sifat rahman Allah.
3. ‘Alim Sekaligus Mujahid Dakwah: Berani Menyatakan Haq dan Bathil
Dalil Naqli:
Allah memerintahkan:
الَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَالَاتِ اللَّهِ وَيَخْشَوْنَهُ وَلَا يَخْشَوْنَ أَحَدًا إِلَّا اللَّهَ
> “(Yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan tidak takut kepada siapa pun selain kepada Allah.”
>
Dalil Aqli:
Ilmu tanpa keberanian adalah pengecut. Keberanian tanpa ilmu adalah kebodohan. Ulama sejati memadukan keduanya. Mujahid da’wah artinya berjuang dengan lisan, pena, dan sikap untuk menegakkan kebenaran.
Referensi: Yusuf Qardhawi, Ulama dan Politik (Pustaka Al-Kautsar, 2002). Bab tentang “Syaja’ah Ulama”.
4. Tidak Ashabiyah: Fanatisme Hanya kepada Islam
Dalil Naqli:
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ
> “Bukan termasuk golongan kami orang yang menyeru kepada ashobiyah/kefanatikan golongan.”
>
Dalil Aqli:
Ashabiyah memecah belah umat. Fanatisme kelompok, ormas, dan mazhab berlebihan
bertentangan dengan ukhuwah islamiyah. Ulama shirathal mustaqim meletakkan Islam di atas semua identitas.
Referensi: Ibnu Khaldun, Muqaddimah. Ashabiyah adalah penyakit sosial yang merusak peradaban.
5. Kuat Nasionalisme, Bingkainya Iman: QS. Al-Baqarah: 154
Dalil Naqli:
وَلَا تَقُولُوا لِمَن يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتٌ ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَٰكِن لَّا تَشْعُرُونَ
> “Dan janganlah kamu mengatakan orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati. Sebenarnya mereka hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.”
>
Ayat ini sering dibaca saat mengenang para syuhada pembela bangsa. Ulama yang nasionalis berbingkai iman meyakini bahwa membela negara dari penjajah dan perpecahan adalah bagian dari hifzhun nafs dan hifzhul wathan — menjaga jiwa dan negara, yang termasuk Maqashid Syariah.
Dalil Aqli:
Cinta tanah air adalah fitrah. Nabi ﷺ menangis saat meninggalkan Mekah. Hubbul wathan bagian dari iman. Nasionalisme tanpa iman menjadi sekular. Iman tanpa nasionalisme menjadi apatis. Keduanya harus menyatu.
Referensi:
* Hasyim Muzadi, Islam dan Pancasila (Pustaka Pesantren, 2011)
* Penelitian: Bruinessen, M. V. (1994). NU: Tradisi, Relasi-relasi Kuasa, Pencarian Wacana Baru. LKiS. Menjelaskan model ulama NU yang nasionalis religius.
C. KESIMPULAN
Al-Marhum K.H. Syukron Ma’mun adalah potret ulama rabbani di akhir zaman. 5 kelangkaannya adalah obat bagi 5 penyakit umat:
* Tunduk pada kekuasaan
* Dakwah eksklusif
* Diam atas kemungkaran
* Fanatisme golongan
* Sekularisme atau radikalisme
Umat hari ini butuh “Straight Path Ulama” — ulama yang lurus di jalan Allah, bukan lurus ke kanan atau ke kiri kepentingan.
DAFTAR PUSTAKA
* Al-Qur’anul Karim dan Terjemah. Kemenag RI, 2019.
* Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih Al-Bukhari. Dar Ibnu Katsir, 2002.
* Muslim bin Al-Hajjaj. Shahih Muslim. Dar Ihya At-Turats, 1991.
* Al-Ghazali, Abu Hamid. Ihya Ulumuddin. Darul Ma’rifah, Beirut.
* Qardhawi, Yusuf. Ulama dan Politik. Pustaka Al-Kautsar, 2002.
* Shihab, M. Quraish. Membumikan Al-Qur’an. Mizan, 2007.
* Muzadi, Hasyim. Islam dan Pancasila. Pustaka Pesantren, 2011.
* Bruinessen, Martin Van. NU: Tradisi, Relasi-relasi Kuasa, Pencarian Wacana Baru. LKiS, 1994.
* Khaldun, Ibnu. Muqaddimah Ibnu Khaldun. Pustaka Al-Kautsar, 2011. (*)



