Rabu, 30 September 2026 Lugas – Tegas – Terpercaya
Mahardhika News
INFO TERKINI
RR. Okki Jusuf Judanagara: Merajut Warisan Tarumanagara dan Gagasan Pembangunan Berbasis Kearifan Nusantara Nyamar Jadi Petugas Provider, Spesialis Pencuri Tower BTS Ditangkap di Tangerang Narita Hotel Tangerang Perkuat Segmen Keluarga, Luncurkan Kamar Disney dan Captain Capy Ribuan Massa BPPKB Banten Turun, Soroti Dugaan Terbitnya Izin Keramaian Polres Pandeglang Terhadap Organisasi Yang Bersengketa Hukum Polda Banten Bongkar Praktik “Kencingan” Solar Subsidi di Pulo Ampel, Dua Tersangka Diamankan Ponpes Almuqriyah Gelar Festival Qosidah dalam Perayaan HUT Banten ke 26 Ketua PCNU Tangsel: Lembaga Harus Jadi Mesin Khidmah, Bukan Sekadar Struktur Ombudsman RI Sidak Lapas Pemuda Tangerang, Tinjau Pemenuhan Hak dan Pelayanan WBP
Mahardhika News TV
LIVE
Beranda › Artikel › Mahardhika Premium

Fenomena Toko Buku Berguguran, Anies: Pangkas Pajak Industri Percetakan & Buku, Negara Tidak Akan Kekurangan Uang

BAGIKAN ARTIKELFenomena Toko Buku Berguguran, Anies: Pangkas Pajak Industri Percetakan & Buku, Negara Tidak Akan Kekurangan Uanghttps://www.mahardhikanews.com/2023/08/25/fenomena-toko-buku-berguguran-anies-pangkas-pajak-industri-percetakan-buku-negara-tidak-akan-kekurangan-uang/
Fenomena Toko Buku Berguguran, Anies: Pangkas Pajak Industri Percetakan & Buku, Negara Tidak Akan Kekurangan Uang

MAHARDHUKAnews.com JAKARTA, – Fenomena tutupnya toko-toko buku disebabkan berbagai faktor seperti tren digitalisasi sehingga perilaku membaca dari gawai daripada dari fisik/cetak dan faktor lainnya.

MAHARDHUKAnews.com JAKARTA, – Fenomena tutupnya toko-toko buku disebabkan berbagai faktor seperti tren digitalisasi sehingga perilaku membaca dari gawai daripada dari fisik/cetak dan faktor lainnya.

Misalnya toko buku Gunung Agung yang telah beroperasi selama 70 tahun di Indonesia, kini berencana menutup seluruh gerainya pada akhir 2023. Langkah serupa juga dilakukan sejumlah toko buku lainnya.

Melihat fenomena ini, Anies Baswedan menyampaikan pandangannya. Menurutnya, semua pihak di industri percetakan dan perbukuan dari hulu-hilir (end to end) harus duduk bersama untuk melihat permasalahan sesungguhnya. Dia menegaskan jangan sampai berpretensi seolah-olah tahu semua permasalahan, Jum’at (25/08

Anies menilai, banyak faktor yang menyebabkan muncul fenomena toko-toko buku tutup, seperti tren digitalisasi yang luar biasa, kemudian generasi baru lebih menyukai media digital daripada media cetak.

prioritas. Industri ini end to end harus dapat dukungan pemerintah.”

Anies memberikan solusi atas fenomena toko buku yang berguguran.

Pertama, insentif pajak untuk kertas dan berbagai aktivitas cetak-mencetak terkait dengan literasi.

Kedua, membuat benchmark. Ini bisa dilakukan benchmark ke India. Pasalnya, produksi buku di India jauh lebih murah daripada di negara penghasil bukunnya itu sendiri.

Ketiga, distribusi buku. “Membawa buku itu seberat batu. Seperti saat Gerakan Indonesia Menyala, sebuah program bangun perpustakaan di desa-desa terpencil, yang paling mahal adalah ongkos kirim bukunya.

Ada perusahaan logistik yang membantu pengiriman buku ini secara gratis. Jadi, negara harus memberikan insentif untuk pengiriman buku ke seluruh wilayah Indonesia. Kirim buku itu mahal.”

Anies menambahkan agar ke depan semua kegiatan terkait dengan perbukuan tidak menjadi beban dengan dikenakan pajak, karena berbeda dengan kegiatan komersial lainnya. “Karena ini adalah tantangan dalam peningkatan pengetahuan, kebudayaan, dan kualitas manusia. Negara harus hadir. Indonesia tidak akan kekurangan uang dengan mengurangi pajak [di industri percetakan dan perbukuan dari hulu-hilir]. (Ivan)