Terkait Penayangan Program Xpose Uncensored Di Trans7, Ketua MUI Karawang Angkat Bicara
MAHARDHIKAnews.com KAB. KARAWANG, — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Karawang menyoroti salah satu program televisi di Trans7 yang dinilai menampilkan kehidupan pesantren secara tidak proporsional. Tayangan tersebut dianggap menimbulkan kesalahpahaman publik mengenai hubungan antara santri dan kiyai, khususnya terkait penghormatan yang dilakukan di lingkungan pesantren.
Ketua MUI Karawang, Dr. KH. Tajudin Nur, M.Pd.I., menyampaikan bahwa sikap santri terhadap kiyai yang ditampilkan dalam program xpose uncensored di Trans7 tersebut seolah digambarkan sebagai bentuk pengkultusan. Padahal, kata dia, tindakan tersebut merupakan bagian dari adab dan akhlak mulia yang menjadi ciri khas pendidikan Islam di pesantren.
“MUI Kabupaten Karawang mengecam keras penayangan di Trans7 yang membahas pesantren, terutama terkait Pesantren Lirboyo. Tayangan ini tidak menggambarkan kondisi yang sebenarnya. Sebaiknya pahami terlebih dahulu kehidupan di pesantren sebelum memberikan sebuah penilaian,” tegasnya.
Ia menjelaskan, sejumlah gestur santri seperti berjalan sambil menunduk atau duduk lebih rendah dihadapan kiyai bukanlah prilaku berlebihan, melainkan bentuk penghormatan kepada guru. Dalam tradisi pesantren, hal tersebut mencerminkan ajaran dasar adab terhadap guru yang telah diwariskan turun-temurun.
“Santri berjalan merunduk atau ngesot bukan karena mengkultuskan kiyai, tapi sebagai tanda hormat. Itu bagian dari akhlak dan tatakrama dalam menuntut ilmu,” ujarnya.
Ketua MUI menambahkan, prinsip utama dalam pendidikan pesantren adalah mengedepankan adab sebelum ilmu. Nilai tersebut di yakini menjadi pondasi keberkahan dalam proses belajar-mengajar.
“Pesantren selalu menanamkan konsep al-adabu qobla al-‘ilm – adab sebelum ilmu. Kalau adab hilang, maka berkah ilmu pun akan hilang,” tuturnya.
Menanggapi tudingan bahwa prilaku santri merupakan bentuk penyimpangan atau praktik tidak wajar, Ketua MUI menegaskan hal itu keliru. Menurutnya, sikap santri terhadap kiyai justru merupakan bentuk tabarukan, yaitu mencari keberkahan ilmu dari guru atau ulama yang dihormati.
“Tidak ada penyimpangan di sana. Santri menghormati gurunya karena berharap mendapat keberkahan ilmu, bukan karena ritual tertentu yang menyimpang,” jelasnya.
Lebih lanjut, Ketua MUI menghimbau masyarakat agar tidak terburu-buru menilai kehidupan pesantren hanya dari potongan video atau narasi yang beredar di media sosial.
“Masyarakat sebaiknya tidak mudah terprovokasi oleh potongan video pada tayangan xpose uncensored di Trans7. Pahami konteksnya terlebih dahulu agar tidak menimbulkan salah tafsir,” pesannya.
Ia menekankan bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan yang berperan besar dalam membentuk karakter dan moral bangsa. Oleh karena itu, menjaga citra pesantren berarti juga menjaga nilai-nilai luhur dalam dunia pendidikan Indonesia.
“Jika kita salah memahami pesantren, berarti kita ikut mengikis nilai luhur pendidikan bangsa sendiri,” pungkasnya. (D-Hunter)






